KREATIF! Mantan Sekda DIY Ini Buat Becak Listrik Kopi



Kopilelet -  Ada yang menarik dari acara pameran kendaraan listrik yang digelar oleh Fakultas Teknik UGM, Minggu (18/2/2018).

Di salah satu sudut aula Fakultas Teknik UGM, terdapat kendaraan yang bertuliskan becak listrik kopi (Beliko). Becak listrik kopi ini mejeng di antara stan-stan jurusan Fakultas Teknik UGM.

Becak listrik kopi ini cukup ramai didatangi pengunjung. Karena bentuknya yang unik, sehingga menarik perhatian pengunjung pameran.

Adalah Tri Harjun Ismaji, sang pemilik Beliko tersebut. Pria 66 tahun ini merupakan mantan Sekretaris Daerah DIY, sejak 2011 ia mulai menggarap Beliko.

"Dimulai sejak 2011, sewaktu pensiun dari Sekda DIY. Saat itu usia saya 60 tahun, jadi naik roda dua sudah enggak berani. Makanya saya harus naik yang lebih stabil yaitu, roda tiga dengan dua roda di belakang," kata Tri.

Menurutnya, ia terinspirasi dari sepeda roda tiga anak-anak dalam menggarap Beliko tersebut.

Prototipe becak listrik kopi kreasi Tri Hajun ini sudah dipromosikan keliling ke berbagai kota di Indonesia termasuk Jakarta, Surabaya bahkan hingga keliling Singapura serta di depan sejumlah tokoh seperti Menteri Perhubungan dan Presiden Joko Widodo.

Momen-momen tersebut diabadikan kemudian Tri pajang di sekitar Beliko.

"Intinya saya membuat prototipe tentang kendaraan yang stabil untuk rekreasi, olahraga, meskipun akhirnya bisa untuk usaha," ujarnya.

 Kenapa ia memilih kopi, menurutnya, Indonesia merupakan produsen terbesar ketiga, tetapi masyarakatnya bukan peminum kopi.

"Padahal kita kaya kopi dan bermanfaat untuk kesehatan, untuk stroke, jantung, diabetes tipe 2," ujarnya.

Kemudian, Tri menuturkan, gagasannya mengenai Beliko adalah untuk masyarakat kecil yang tidak mampu menyewa kios ataupun ruko.

Ditambahkannya, kalau pakai ini Beliko lebih murah dibandingkan menyewa kios.

"Bisa bikin sendiri dari sepeda yang ada terus dimodifikasi. Saya juga siap kalau untuk konsultasi," tuturnya.

Dari menggunakan Beliko masyarakat kecil bisa menempati ruang publik untuk jualan kopi.

Contohnya sudah koling (kopi keliling), bagi Tri itu merupakan salah satu cara untuk menjajakan produk rumahan.

"Produk rumahan kita kaya, seperti wedang bajigur, jahe dan ronde, sayangnya digeser oleh teknologi. Semuanya dalam bentuk sachet. Itu yang punya pemodal besar. Padahal rakyat kita bisa bikin macam-macam," tambahnya.

"Kalau itu dijajakan dengan gerobak ini (Beliko), masyarakat kan enggak usah nyewa kios. Bisa menjadi kopi online juga, misal ada yang mau rapat 30 orang, tolong pesan kopi dan pisang bakar, datanglah becak listrik kopi," kata Tri.

Tri juga mengatakan, saat ini ia belum dalam rangka menjalankan usaha, hanya saja ini merupakan cara untuk menunjukkan ke masyarakat bahwa ada bentuk usaha alternatif yang murah.

"Saya belum usaha, jadi selama ini saya sedang membuat prototipe, menguji kelayakan teknis, artistik, menarik masyarakat enggak, harganya terjangkau enggak."

"Belum komersial. Mungkin kalau sudah lebih baik, ada saatnya untuk launching komersial," kata dia.

Tri Harjun Ismaji juga menyampaikan rasa senangnya terhadap anak-anak muda yang menyukai kopi asli Indonesia.

"Saya juga senang, saat ini anak-anak muda mulai menyukai kopiasli. Sudah banyak cafe-cafe yang menjajakan kopi-kopi Indonesia," tandasnya.