Peradaban Islam yang Tumbuh Bersama Kopi


Kedai kopi di Palestina; 1900. FOTO/Wikicommon
KopileletDi sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, satu tradisi yang lekat dalam ingatan adalah ada yang menyeduh kopi dalam teko berukuran besar. Gelas-gelas plastik ditumpuk. Kudapan diletakkan di atas piring berjajar. Para remaja berkumpul dan tertawa-tawa setelah bermain petasan. Tua, muda, lelaki, perempuan, berkumpul di masjid, dan i’tikaf. Ada yang satu-dua jam. Ada yang lanjut hingga Subuh. Tentu saja, di tengah mengaji hingga subuh itu, kopi —dan seringkali rokok kretek— selalu hadir.

Puluhan tahun kemudian, baru saya baca bahwa tradisi melekan atau begadang sembari beribadah ditemani kopi, sudah dilakukan sejak berabad silam. Artikel menarik berjudul “Coffee - The Wine of Islam” mengisahkan bahwa kopi punya kaitan erat dengan peradaban Islam. 

Memang, kopi pertama kali hadir di Abyssinia, sekarang Ethiopia —lengkap dengan legenda Kaldi sang penggembala kambing yang kaget mengetahui peliharaannya jadi girang setelah makan biji kopi. Namun, adalah orang Yaman yang pertama membudidayakan kopi. Kala itu, pada abad 13, kelompok sufi Shadhiliyya mengenal kopi dari para penggembala di Ethiopia. Minuman ajaib itu ternyata berasal dari bun —istilah yang kemudian dipakai untuk menggambarkan tanaman dan buah kopi.

Ketika kelompok sufi yang lahir di Yaman ini kembali ke tanah air, mereka membawa serta bibit-bibit bun. Di Yaman, minuman yang sehitam malam ini dikenal sebagai qahwa. Istilah ini awalnya dipakai untuk wine. Karena itu pula, kopi dijuluki sebagai “The Wine of Islam”. Karena kala itu qahwa dipercaya bisa membuat orang kuat melek, ia pun dipakai sebagai teman untuk berzikir dan beribadah hingga Subuh. Kata qahwa pula yang kemudian diserap menjadi coffee, cafe, maupun kopi.

Kopi yang awalnya diminum oleh para sufi, kemudian menemukan popularitasnya. Dalam Uncommon Grounds: The History of Coffee and How It Transformed Our World (2010), Mark Pendergrast menjelaskan bahwa kopi jadi minuman sehari-hari. Orang kaya di Yaman dan sekitarnya, punya ruangan khusus buat ngopi. Sedangkan yang uangnya pas-pasan, minum kopi di kaveh kanes, alias rumah kopi. Pada abad 15, para peziarah muslim sudah menyebarkan kopi ke Persia, Mesir, Turki, juga Afrika Utara. Kopi jadi barang berharga. 

Ketika kopi jadi minuman sehari-hari, bermunculan pula banyak rumah kopi. Seperti ada hukum tak tertulis, bahwa jika ada orang banyak berkumpul sembari ngopi, pasti ada saja hasilnya. Entah itu ide untuk buku, ilham menulis puisi, hingga guyonan meledek penguasa. Yang belakangan itu kemudian mendorong Gubernur Mekah melarang adanya rumah kopi.

Alkisah pada 1511, rumah kopi dianggap membawa masalah baru. Orang-orang dianggap terlalu sering menghabiskan waktu nyangkruk sembari ngopi, ketimbang, katakanlah, kerja atau ibadah. Ralp Hattox yang menulis tentang sejarah rumah kopi di Arab, dikutip dalam Uncommon Grounds, menulis bahwa rumah kopi bahkan jadi sarang perbuatan kriminal. 

“Mulai dari berjudi hingga perilaku seksual yang tak biasa,” tulis Hattox.

Namun puncaknya, adalah saat penguasa Mekkah kala itu, Khair-Beg, mengetahui ada olokan tentang dirinya. Dari mana lagi munculnya kalau bukan dari pria-pria yang bergosip sambil ngopi di kaveh kanes. Maka, pada 1511, Khair-Beg memberi fatwa: kopi sama seperti anggur. Harus diharamkan! Bersamaan dengan itu, semua rumah kopi di Mekkah dipaksa tutup.

Tapi apapun yang dilarang, pasti akan menemukan jalannya sendiri. Kopi tetap jadi minuman sehari-hari yang bikin orang kecanduan. Saking banyaknya orang kecanduan minum kopi, Sultan Sulaiman, penguasa Turki, mengenakan pajak bagi kopi pada 1554. Tujuannya jelas: mengurangi konsumsi kopi.

Pada akhir abad 17, para pedagang Kairo membawa kopi dari Jeddah maupun Hudayda di Barat Yaman. Menurut laporan Michel Tuscherer dalam “Coffee in the Red Sea Area from the Sixteenth to the Nineteenth Century”, jumlah dagangan kopi mereka mencapai 4.500 ton per tahun. 

Pedagang dari Belanda, pada 1699 membawa kopi dari Malabar, Barat Daya India, ke Jawa. Mark Pendergrast, penulis Uncommon Grounds, menyebut bahwa pihak Belanda kemudian kembali menanam kopi di Sumatera, Sulawesi, Timor, juga Bali. Pada 1700-an, Jawa dan Mocha (kota pelabuhan di Yaman), menjadi pemasok kopi terbaik. Bahkan ada istilah a cup of Java untuk menyebut kopi.

Kopi juga menjadi tanaman yang sakral di beberapa tempat. Para petani kopi Gayo, misalnya, punya Siti Kahwa sebagai personifikasi tanaman kopi. Kala musim tanam kopi datang, para petani meriung di ladang. Tetua lantas membacakan mantra yang selalu dirapal waktu akan mulai menanam kopi.

Bismillah / Siti Kahwa / kunikahen ko orom kuyu / wih kin walimu / tanoh kin saksimu / Lo kin saksi kalammu.

(Bismillah / Siti Kahwa / kunikahkan dikau dengan angin / air walimu / tanah saksimu / matahari saksi kalammu.)

Ratusan tahun semenjak kopi pertama kali ditanam di Nusantara, kopi masih tak tergoyahkan sebagai minuman populer. Di Indonesia, kopi hampir selalu ada di setiap acara, terutama yang membutuhkan begadang. Mulai dari yang sifatnya komunal seperti ronda atau kerja bakti, hingga yang sifatnya religius seperti i’tikaf. Selengkapnya