Kampung Robusta Dari Lampung Barat



Kopilelet - Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung, telah menggelar Festival Kopi Lampung Barat Festival ini digelar pada 21 hinga 23 Juli 2018 yang dipusatkan di Pekon Gunung Terang, Kecamatan Air Hitam, Lampung Barat.

Dengan slogan "Indonesia Negeriku Lampung Barat Kopiku". Festival Kopi Lampung Barat 2018 ini bertujuan untuk mempromosikan komoditas unggulan kopi robusta. Sekaligus mengenalkan lebih luas potensi kopi dan objek pariwisata di Kabupaten Lampung Barat.

Rangkaian kegiatan festival kopi ini berupa seminar kopi, pameran dan bazar. Selain itu ada juga panen raya kopi, lomba melukis dari ampas kopi, lomba fotografi, barista competition dan uji cita rasa, dan klinik kopi. Pada kesempatan itu pula, Kampung Kopi Rigis Jaya di Rigis Jaya, Kecamatan Air Hitam, diluncurkan.

Dikutip dari kabare.id, menurut Ketua MPR Zulkifli Hasan, yang turut hadir dalam acara tersebut harus ada pembenahan dalam sisi produksi dari petani. “Kopi Lampung ini memang dari aslinya sudah bagus. Kalau diolah akan makin mendunia karena memang nikmat. Sudah waktunya kopi Indonesia mendunia,” kata Zulkifli.

Perbaikan dalam alur tata niaga juga diperlukan. Petani diharapkan dapat mengerjakan proses produksi sendiri, agar agar penjualan komoditas bisa sepenuhnya dinikmati petani. Karena itu, perlu adanya bantuan dari segala pihak. Kepala dinas, bupati, pihak swasta, serta komponen masyarakat lainnya dapat mendukung Kampung Kopi ini.

Dilansir dari jpnn.com, Ketua MPR ini juga berharap  kepada pemerintah agar dapat mendukung para petani kopi di daerah ini. Dampingan dan pemberian fasilitas adalah yang utama untuk dapat mendukung para petani.

“Saya berharap kepada pemerintah harus mendampingi dan memfasilitasi para petani kopi mulai dari awal masa tanam, panen dan terutama dalam soal penjualan hasil produk kopi ke pasar. Fasilitasi dan dampingi petani kopi terutama saat musim panen melimpah, supaya petani tidak merugi dengan harga jual yang selalu turun. Lalu pemerintah juga harus bisa memutus mata rantai pedagang tengkulak, yang menguasai harga pasar dan merugikan petani,” ungkapnya.