Sejarah Kopi Gayo hingga Mendunia



Kopilelet - Kopi tak hanya jadi penghalau rasa kantuk dan teman memulai rutinitas. Lebih dari itu, kopi mengandung nilai sejarah, perjalanan, makna yang lebih mendalam, dan kedekatan personal juga dirasakan setiap penikmatnya.

Belakangan, tren ngopi dengan kombinasi beragam flavor pun tersedia. Fenomena ini berjalan beriringan dengan merajalelanya kedai kopi kekinian di kalangan generasi milenial.

Namun jauh sebelum itu, kopi telah berkelana dan hadir sebagai satu komoditi unggul termasuk di Indonesia. Kopi Nusantara menyajikan taste original yang kenikmatannya tak dapat dielakkan, satu di antara yang ternama adalah kopi Gayo.

Varietas kopi arabika yang berasal dari Dataran tinggi Gayo tersebut tumbuh subur di kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, serta di wilayah Gayo Lues. Kehadiran kopi Gayo pun telah ada zaman penjajahan Belanda.

Hal tersebut diungkapkan Haris Pardede, salah seorang penggiat kopi sekaligus pemilik Kopi+ Corner. Ia bertolak menuju Serambi Mekah tahun 2017 untuk memastikan kopi Aceh yang didapatkan dari supplier kopinya.

"Kopi Gayo telah ada sejak zaman Belanda bahkan saya bertemu satu keluarga di sana yang mengelola kopi Gayo sudah memasuki hampir keturunan keempat," kata Haris Pardede kepada Liputan6.com, melalui sambungan telepon pada Minggu (25/11/2018).

Haris menambahkan, tidak banyak sumber kopi alamiah karena kopi arabika khususnya tumbuh subur di atas 1000 mdpl, daerah tropis seperti di Indonesia, Kolombia dan sekitarnya, dan Afrika Tengah. Faktor topografi itulah yang menjadi salah satu keunggulan kopi Gayo.

"Kopi Gayo juga telah export-oriented, memiliki kandungan air yang minim, dan telah lebih dahulu bergerak di bidang kopi," jelas Haris.

Kopi Gayo di Kancah Dunia

Sebagai salah satu kopi unggulan Nusantara, eksistensi kopi Gayo telah melenggang hingga ke kancah dunia. Sebut saja di tahun 2018 ini ketika kopi Gayo turut dipromosikan dalam ajang pameran kopi specialty terbesar di dunia, Specialty Coffee Association (SCA) Coffee Expo di Seattle, Amerika Serikat pada 19-22 April 2018 lalu.

Pengunjung yang hadir di sana dapat menguju kualitas kopi arabika dari Dataran Tinggi Gayo tersebut. Kopi Gayo terpilih sebagai sasaran Trade and Private Sector Assistance (TPSA) Project karena memiliki potensi kuat untuk di ekspor ke pasar Kanada.

Tak hanya itu, kopi Gayo juga ikut serta dalam coffee tasting Kopi Spesial Indonesia di Buenos Aires, Argentina pada 24 Mei 2018 lalu. Selain Gayo, ada pula kopi spesial Indonesia lainnya seperti Mandailing dari Sumatera Utara, Java Preanger dari Jawa Barat, Toraja dari Sulawesi, dan Bajawa dari Flores.