Pesona Kopi Lelet Khas Lasem

kop lelet lasem

Indonesia diakui sebagai salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia setelah Brazil dan Vietnam. karena menjadi sentra penghasil kopi, tak heran kalau Indonesia memiliki budaya minum kopi. Budaya ini telah berkembang secara turun temurun di daerah-daerah penghasil kopi kelas dunia seperti Aceh Sumatera Utara dan Lampung.

Berbagai kedai kopi mulai bermunculan di beberapa tempat yang membuat budaya minum kopi menjadi sebuah gaya hidup tersendiri.
Minum kopi juga berkembang di Bumi Kartini rembang khususnya di kota Lasem. Tidak memiliki kebun kopi bukan berarti kota tua ini sepi dari kultur kopi.

Menurut penuturan pegiat sejarah Lasem, Tatoya. Budaya ngopi di Lasem sudah ada sejak dulu sekitar 10 sampai 20 tahun sebelum NKRI Merdeka. Bahkan menurutnya budaya ngopi di Lasem sudah ada sejak galangan kapal yang ada di desa dasun masih beroperasi.

Lasem merupakan sebuah kota kecil di ujung timur Jawa Tengah yang berjarak sekitar 12 km dari kota Rembang. Dulu kota ini dikenal dengan sebutan nama Pecinan kecil. Deretan bangunan berumur ratusan tahun, dan kelenteng Cu an kiong yang merupakan salah satu kelenteng tertua di Indonesia menjadi saksi sejarah yang sangat berharga, karena kota ini pernah menjadi tempat perdagangan internasional.

Selain meninggalkan perkampungan yang eksotis, datangnya orang Tionghoa ke Lasem juga mewariskan budaya batik. Bercirikan warna merah darah ayam khas Tionghoa. Ternyata, seni melukis di kota Lasem tidak hanya berhenti hanya sebatas di kain saja. Di sini ada sebuah budaya unik yang dinamakan ngelelet. Ngelelet merupakan wujud dari sebuah kreativitas yang ada di Lasem yaitu dengan merubah sebatang rokok menjadi media lukis layaknya kanvas dengan menggunakan tusuk gigi sebagai canting nya.

Ini yang unik dari kopi lelet Lasem. Kopi yang diproduksi di kota tua ini memiliki tekstur super lembut, berbeda dengan kopi daerah lain pada umumnya.

Proses pengolahan kopi lelet ini melalui beberapa tahap. Tahap awal biji kopi dipilih, kemudian disangrai secara tradisional. Proses ini dapat meningkatkan cita rasa dan warna dari biji kopi. Aroma khas kopi akan terasa dan warna biji kopi akan mulai pekat. Biji kopi yang telah disangrai kemudian selanjutnya digiling dengan mesin penghalus khusus berkali-kali sampai mendapatkan tekstur kopi bubuk yang benar-benar halus. Di sini kuncinya, penggilingan yang baik akan menghasilkan tekstur kopi yang halus dengan rasa dan aroma yang istimewa.

Selain menjadi media untuk menyelesaikan masalah, ngopi bagi sebagian masyarakat Lasem merupakan cara relaksasi setelah lelah dengan kegiatan sehari-hari. Di Lasem, menikmati secangkir kopi di warung kopi lelet adalah sebuh rutinitas menyenangkan yang tidak mengenal batas ruang dan waktu. Mereka yang datang diwarung kopi ini juga tidak mengenal batasan pekerjaan dan usia. Kultur minum kopi dilasem semakin hidup dengan adanya kopi lelet.

Inilah salah satu kekayaan tradisi yang tak terbeli di lasem. Kota kecil dengan sejuta budaya dan syarat nilai historikalnya. Jika kita jeli dan mau banyak mengupas, kita bisa mendapatkan berbagaimacam hal menarik lainnya yang tidak jauh dari kita.